Masa Depan Itu Seperti Rumah [3]


Finishing


Finishing dalam membuat rumah diantaranya memasang ubin lantai, memasang pintu dan jendela, membuat plafon, memasang instalasi listrik, mengecat rumah, membuat pagar, membuat kolam renang atau menata taman. Kegiatan tersebut dibuat setelah bangunan rumah telah berdiri kokoh. Dalam mengejar masa depan, kegiatan finishing ini dilakukan ketika sudah punya pekerjaan tetap, dan siap untuk membangun keluarga sendiri. Membangun keluarga sendiri yaitu menikah, punya anak, punya mobil, membahagiakan orang tua, liburan, atau mewujudkan keinginan dan kebutuhan yang lain.

Ketika finishing telah selesai atau keinginan telah tercapai, maka saat itulah masa depan telah kita genggam. Masa depan yang dimaksud adalah masa depan yang telah kita impikan dari kecil. Meskipun setelah finishing kita mengharapkan masa depan yang lainnya, tetapi setidaknya kita telah meraih masa depan pertama dalam kehidupan kita. Dan saat itu pulalah kita akan meniti hidup yang baru, untuk mempersiapkan kehidupan yang bahagia dan masa pensiun yang indah. Untuk meniti kehidupan bahagia itu maka kita kembali membuat desain, pondasi, rangka besi, dinding, atap , dan finishing lainnya.

Memang benar, terkadang apa yang telah kita desain atau kita bangun, tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ada beberapa perhitungan atau ukuran yang salah yang membuat bangunan rumah yang telah dibangun tidak seperti desain yang kita impikan. Begitupun dengan masa depan, terkadang pekerjaan yang kita raih saai ini tidak seperti yang kita impikan waktu kecil. Maka ketika itu terjadi, kita butuh jiwa yang besar dan waktu yang tepat untuk memutuskan masa depan kita yang baru.

Kita telah mempunyai empat modal yaitu pondasi, Rangka, Dinding, dan Atap, selanjutnya kita akan menentukan langkah apa yang kita ambil selanjutnya. Apakah kita memutuskan untuk menjual Keempat modal itu, atau merenovasi kembali sesuai keinginan kita, tapi membutuhkan tambahan biaya. Atau kita bisa memilih opsi lain yaitu dengan mengubah modal tersebut menjadi suatu hal yang lain. Misalnya dengan mengontrakkannya, menjadikannya kos-kosan, atau menjadikan tempat tersebut sebagai tempat usaha.

Sama halnya dengan masa depan, kita punya ilmu, keahlian, ijasah atau gelar, selanjutnya kita yang akan menentukan akan kita apakan hal tersebut. Jika memang pekerjaan yang kita dapatkan tidak sesuai yang kita inginkan, kita bisa memilih opsi lain untuk memulai meniti hidup yang baru. Contohnya kita memimpikan untuk menjadi dokter, tetapi justru menjadi guru/dosen atau bahkan jadi pengusaha. Meskipun kita tidak menjadi dokter, tetapi kita bisa memanfaatkan keahlian dan gelar kita untuk menjadi dosen. Atau kita bisa membuka usaha klinik yang tentu saja membutuhkan modal dana yang kuat.


Intinya adalah ketika apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan yang kita dapatkan, Kita tidak boleh realistis, atau bahkan pesimis. Kita tetap harus optimis dan menatap ke depan. Kita punya modal yang kuat, dan selanjutnya kita hanya perlu memanfaatkan modal tersebut. “Realistis adalah kata lain dari kepasrahan atau putus asa, Pesimis adalah kata lain dari pecundang, sedangkan optimis adalah kata lain dari semangat yang membara.”



  1.                                         ...Sebelumnya 1 2 3 
Blog, Updated at: 20.07