Berbagilah dengan Orang Disekitarmu

Berbagilah dengan orang disekitarmu, bisa jadi roti sisa milikmu sangat diimpikan mereka. Cerita ini adalah pengalaman pribadiku. Cerita sederhana semoga bisa bermanfaat.


"Waktu itu aku kelas lima sekolah dasar, umur sekitar sebelas tahun. Terlahir dari keluarga sederhana dengan penghasilan yang kecil, membuat mimpiku memiliki mainan bagus buyar dengan sendirinya. Aku takkan mungkin memiliki mobil-mobilan, pistol, atau mainan lain yang menguras kocek untuk memainkannya. 

Aku hanya bisa duduk menonton teman yang asyik memainkan mainan mahal mereka, dengan harapan mereka mau meminjamiku saat mereka bosan. Tapi harapan hanya sekedar asa yang membuatku gigit jari. Untuk menyalurkan naluri kekanak-kanakanku, Aku lebih sering membuat mainan sendiri dibanding merengek untuk dibelikan mainan sama bapak. Aku sadar bahwa tak ada gunanya aku merengek, karena hasilnya pasti nihil, yang ada aku hanya dapat gertakan kecil.

Masih hangat dalam ingatan, hari itu di rumah sepulang sekolah aku melihat bapak memangkas pohon kayu cina (begitu orang bulukumba menyebutnya), dan beberapa pohon ditebangnya. Menjelang sholat ashar saya siap ke mesjid untuk belajar mengaji. Sepulang mengaji, aku bermain dengan potongan kayu hasil tebangan bapak yang ditumpuk di seberang jalan. 

Aku tak ingat alasan tertarik dengan salah satu hasil tebangan bapak. Potongan kayu itu aku jadikan motor-motoran yang tentu saja membuatku bahagia ketika menungganginya. Dengan tenaga anak kecil, aku menarik potongan kayu itu masuk ke halaman rumah.
Karena baru jam lima, aku masuk ke dalam rumah mengganti baju lalu mengambil parang di dapur. Setelah itu keluar untuk memangkas daun dan memotong beberapa bagian pohon kayu cina (kata orang makassar) yang tak berguna.

Tenaga anak kecil dan tentu saja terbatas membuatku tak bisa menyelesaikan proyek itu. Adzan magrib berkumandang, aku bergegas membersihkan halaman dan membuang sampah daun yang telah kuhamburkan.

Aku lalu masuk ke dalam rumah dengan semangat membara. Aku sudah tak sabar menunggu hari libur besok. Aku ingin segera menuntaskan proyek lalu bermain bersamanya. 

Pagi itu aku bangun lebih cepat dari biasanya. Aku berlari mengambil parang di dapur lalu keluar ke halaman. Dengan semangat menggebu-gebu aku memotong sedikit demi sedikit. Aku baru menyelesaikan proyek itu sekitar pukul sebelas siang dan tentu saja aku telah melewatkan film kartun yang antri untuk dinonton tiap minggu pagi.

Berbeda dengan hari-hari yang lain, pada hari minggu jadwal mengaji dimulai setelah sholat duhur dan selesai setelah sholat ashar. Setelah selesai mengaji, saya berlari pulang ke rumah. Saya ingin segera bermain dengan motor-motoran kayu karya tanganku sendiri. Rasa bangga, puas, dan senang mengguncah di dada. Aku menghabiskan sore itu dengan bermain motor-motoran, menungganginya hingga lelah.

Keesokan paginya,  motor buatanku masih terparkir rapih di halaman. Aku menyempatkan waktu sejenak untuk bermain sebelum berangkat sekolah. Siang harinya, sepulang sekolah bapak bilang kalau tante rina meminta kayu mainanku. Tante rina adalah tetangga yang baik bagi keluargaku. Dia sangat mencintai bunga, terutama bunga anggrek. Tante rina mau membelinya dengan harga lima ribu rupiah.

Lima ribu rupiah untuk anak kecil sepertiku tentu saja sangat banyak. Tapi aku menolak, aku merasa karyaku lebih berharga dari selembar uang lima ribu. Aku berkeras untuk tak memberikan mainan yang telah kubuat dengan susah payah itu. Ketika Suara adzan ashar berkumandang, aku bergegas ke mesjid untuk belajar mengaji.

Aku kaget saat tiba di rumah, motor buatanku tak ada. Apakah bapak membuangnya karena marah dengan sikapku yang keras tadi?. Aku berlari mencari bapak, tapi dia tak di rumah. Aku melihat ibu sedang membersihkan sayur di dapur. Aku bertanya pada ibu, dan beliau menjawab bahwa kayu itu sudah diambil tante rina. Sontak aku menangis, aku kecewa,  aku sedih karena karyaku dirampas orang. Ibu mencoba menenangkanku dan memberiku selembar uang lima ribu. Ibu memintaku untuk melihat ke rumah tante rina, lihat halamannya.

Aku masih terisak, air mataku masih membanjiri pipi. Dengan menggenggam uang lima ribu, aku keluar dan mengintip ke halaman rumah tante rina. Motor-motoranku ada disana, ia tertanam tepat ditengah halaman. Diatasnya tersusun beberapa bunga anggrek yang cantik. 

Melihat keindahan bunga anggrek yang rimbun dan bergerombol membuat senyumku merekah dengan sendirinya. Aku senang melihat keindahan bunga anggrek itu. Aku terpesona, dan dengan seketika sakit hatiku hilang. Aku ikhlas kehilangan karya terbaikku. 
Aku menyadari bahwa karyaku lebih cantik dan berguna berdiri dihalaman tante rina. Aku tak tahu, perasaanku saat itu jauh lebih bangga dibanding ketika aku menyelesaikan mainanku itu. "

***
Hikmah yang aku dapat dari kisah kecilku itu adalah aku menyadari bahwa karya yang telah aku buat dengan susah payah bisa menjadi sesuatu yang berharga untuk orang lain. Dan bisa menjadi sesuatu yang berguna dibanding hanya menjadi motor-motoran kayu.

Mungkin awalnya berat melepas sesuatu yang berharga bagi kita, tapi rasa bangga saat melihat orang lain tersenyum senang karena hasil karya kita itu mengguncah didada. Apalagi jika karya kita bermanfaat bagi mereka.

PESAN : Berbagilah dengan orang disekitarmu, bisa jadi roti sisa milikmu sangat diimpikan mereka. Jangan sungkan memberikan sesuatu walau berharga apabila itu sangat dibutuhkan orang disekelilingmu. Karena hidup ini terus berputar, ada kalanya suatu saat nanti mereka yang akan memberikan pertolongan dikala kita butuh.

Sumber gambar :http://sajilezat.files.wordpress.com/2011/07/berbagi.jpg
Blog, Updated at: 16.47